Wednesday, July 7, 2010

Kisah Sekeluarga Yahudi Masuk Islam

Pada tahun 1998, Joseph Cohen seorang Yahudi Ortodoks kelahiran AS hijrah ke Israel kerana keyakinannya yang sangat kuat pada ajaran Yahudi. Dia kemudian tinggal di pemukiman Yahudi Gush Qatif di Gaza (Israel berundur dari wilayah Jalur Gaza pada tahun 2005).

Cohen tak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke Israel akan membawanya pada cahaya Islam. Setelah tiga tahun menetap di Gaza, Cohen memutuskan untuk menjadi seorang Muslim setelah dia bertemu dengan seorang syeikh berasal dai UAE dan berdiskusi tentang teologi dengan syeikh tersebut melalui internet. Setelah masuk Islam, Cohen mengganti namanya dengan nama Islam Yousef al-Khattab.

Tak lama setelah dia mengucapkan syahadat, isteri dan empat anak Yousef mengikuti jejaknya menjadi Muslim. Sekarang, Yousef al-Khattab aktif berdakwah di kalangan orang-orang Yahudi, meskipun d ia sendiri tidak diakui lagi oleh keluarganya yang tidak suka melihatnya masuk Islam.

"Saya sudah tidak lagi berhubungan dengan keluarga saya. Kita tidak boleh memutuskan hubungan kekeluargaan, tapi pihak keluarga saya adalah Yahudi dengan entiti ke-Yahudi-annya. Kami tidak punya pilihan lain, selain memutuskan hubungan untuk saat ini. Kata-kata terakhir yang mereka lontarkan pada saya, mereka mengatakan saya barbar," tutur Yousef tentang hubungan dengan keluarganya sekarang.

Dia mengakui, berdakwah tentang Islam di kalangan orang-orang Yahudi bukan pekerjaan yang mudah. Menurutnya, yang pertama kali harus dilakukan dalam mengenalkan Islam adalah, bahawa hanya ada satu manhaj dalam Islam iaitu manhaj yang dibawa oleh Rasululullah saw yang kemudian diteruskan oleh para sahabat-sahabat dan penerusnya hingga sekarang.

"Cara yang paling baik untuk membuktikan bahawa Islam adalah agama untuk semua umat manusia adalah dengan memberikan penjelasan berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan yang membezakan antara umat manusia adalah ketaqwaannya pada Allah semata," ujar Yousef.

"Islam bukan agama yang rasis. Kita punya bukti-bukti yang sangat kuat, firman Allah dan perkataan Rasulullah saw. Kita berjuang bukan untuk membenci kaum kafir. Kita berjuang hanya demi Allah semata, untuk melawan mereka yang ingin membunuh kita, yang menjajah tanah air kita, yang menyebarkan kemungkaran dan menyebarkan ideologi Barat di negara kita, misalnya ideologi demokrasi," sambung Yousef.

Dia mengatakan bahawa dasar ajaran agama Yahudi sangat berbeda dengan Islam. Perbedaan utamanya dalam masalah tauhid. Agama Yahudi, kata Yousef percaya pada perantara dan perantara mereka adalah para rabbi. Orang-orang Yahudi berdoa melalui perantaraan rabbi-rabbi mereka.

"Yudaisme adalah kepercayaan yang berbasiskan pada manusia. Berbeza dengan Islam, agama yang berbasis pada al-Quran dan Sunnah. Dan keyakinan pada Islam tidak akan pernah berubah, di semua masjid di seluruh dunia al-Quran yang kita dengarkan adalah al-Quran yang sama," ujar Yousef.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa Yahudisme di sisi lain berpatokan pada "tradisi oral" misalnya kitab Talmud yang disusun berdasarkan informasi dari mulut ke mulut yang kemudian dibukukan. Para rabbi sendiri, kata Yousef mengakui, mungkin saja banyak hal yang sudah orang lupa sehingga keabsahan kitab tersebut boleh dipersoalkan.

Yousef mengungkapkan, kitab Taurat yang diyakini kaum Yahudi sekarang memiliki sebelas versi yang berbeza dan naskah-naskah Taurat itu bukan lagi naskah asli. "Alhamdulillah, Allah memberikan rahmat pada kita semua dengan agama yang mudah, di mana banyak orang yang mampu menghafal al-Quran dari generasi ke generasi. Allah memberkati kita semua dengan al-Quran," tegas Yousef. Meski demikian, dia meyakini dialog adalah cara terbaik dalam berdakwah terutama di kalangan Yahudi.

Ditanya tentang kelompok-kelompok Yahudi yang mendakwa anti-Zionis. Yousef menjawab bahawa secara pribadi maupun dari sisi religius, dia tidak percaya dengan Yahudi-Yahudi yang mendakwa anti-Zionis. "Dari sejarahnya saja, mereka adalah orang-orang yang selalu melanggar kesepakatan. Mereka membunuh para nabi, oleh sebab itu saya tidak pernah percaya pada mereka, meskipun Islam selalu menunjukkan sikap yang baik pada mereka," paparnya.

Yousef menegaskan bahawa pernyataannya itu bukan untuk membela orang-orang Palestin ataupun atas nama seorang Muslim. Pernyataan itu merupakan pendapat peribadinya. "Allah Maha Tahu," tegasnya.

Sebagai orang yang pernah tinggal di pemukiman Yahudi di wilayah Palestin, Yousef mengakui adanya diskriminasi yang dilakukan pemerintah Israel terhadap Muslim Palestin. Yousef sendiri pernah dipukul oleh askar-askar Israel meskipun tidak seburuk perlakuan askar-askar Zionis itu kepada warga Palestin.

"Saya masih beruntung, penderitaan yang saya alami tidak seberat penderitaan saudara-saudara kita di Afghanistan yang berada dibawah penjajahan AS atau saudara-saudara kita yang berada di kem penjara AS di Kuba (Guantanamo)," imbuhnya dengan rasa syukur.

Allah memberikan hidayah pada umatnya, kadang-kadang dengan cara yang tak terduga. Seperti yang dialami Cohen atau Yousef yang terus masuk Islam setelah pindah ke wilayah pendudukan Israel di Gaza. (ln/readingislam

Obama tajaan Yahudi

Bagi Yahudi Amerika, kemenangan Barack Obama menjadi lambang kemenangan mereka. Para Yahudi AS itu mengatakan, perjalanan hidup seorang Obama yang berasal dari keturunan imigran kulit hitam hingga berhasil mencapai kerusi presidenan AS, mirip dengan perjuangan kaum Yahudi yang datang ke AS sebagai imigran yang mencari kehidupan yang lebih baik setelah mereka selalu menjadi kaum terusir di pelbagai penjuru dunia.

Salah seorang tokoh Yahudi AS yang beranggapan seperti itu antara lain David Axelrod penasihat senior Rumah Putih dan ketua strategi kempen Obama, yang selalu berusaha menutup-tutupi latar belakang ke-Yahudi-annya. Dalam sebuah pesta untuk Obama yang didanai sejumlah organisasi Yahudi di AS, Axelrod mengatakan, prestasi Obama merupakan satu lagi langkah maju kaum Yahudi dalam perjalanan Amerika Raya, yang sebelumnya telah dilakukan ayah dan datuk neneknya ketika melarikan diri dari Bessarabia ke AS.

"Mereka datang ke AS bukan cuma untuk mencari tempat yang aman, tapi mereka juga mencari tempat yang menjanjikan dan memberikan kesempatan. Dan Amerika adalah lambangnya," kata Axelrod.

Dia mengungkapkan harapannya, suatu saat nanti bukan hanya Obama yang boleh terpilih ke Rumah Putih, tapi anak-anak Yahudi lainnya seperti Rahm Emanuel yang ditunjuk Obama sebagai ketua staff Rumah Putih. Axelrod menyebut Emanuel sebagai "putera dari para imigran Israel."

Axelrod mengaku sangat puas dan bangga begitu melihat hasil pilihanraya lepas, dan melihat besarnya dukungan Yahudi AS kepada Obama. Yang menurutnya merupakan dukungan terbesar kepada Parti Demokrat dalam jangkamasa beberapa tahun ini.

Tokoh Yahudi lainnya yang memiliki pandangan sama dengan Axelrod dah ikut hadir dalam acara sambutan untuk Obama adalah aktor Bryan Greenberg. Dia mengaku hadir dalam perayaan itu untuk mengetahui lebih jauh bagaimana pemerintahan baru AS ini membina hubungan dengan komuniti Yahudi dan menanggapi isu-isu ke-Yahudi-an. Buat Greenberg, kepentingan Israel mesti tetap nombor satu.

Greenberg menceritakan bagaimana nenek moyangnya berhasil lolos dari Jerman pada masa holocaust dan pengalaman perjalanannya ke Israel. Dari pengalamannya itu, Greenberg merasa betapa pentingnya bagi Yahudi memiliki satu tempat, setelah terusir dari satu tempat ke tempat lain selama ribuan tahun.

Rekan Greenberg, Debra Winger, salah satu pendukung Obama dan pendukung Yahudi mengatakan bahwa doa mereka telah dikabulkan dengan terpilihnya Obama. Bahkan Abner Mikvner, juru bicara kaum Yahudi Zionis, mantan anggota Kongres, mantan hakim federal yang juga mentor Obama berkomentar,"Obama adalah presiden Yahudi pertama".

Tidak hairanlah jika Barack Obama menunjukkan dukungan butanya pada Israel seperti juga presiden-presiden AS sebelumnya. Dan sama sekali tidak mengeluarkan pernyataan apapun melihat tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza. Melihat fakta yang terang benderang ini, bisakah Obama diandalkan menjadi pemimpin AS yang membawa perubahan bagi perdamaian dunia, terutama dunia Islam? (ln/JP)

Statistik Yahudi di Seluruh Dunia

Di mana orang-orang Yahudi di luar Israel yang jumlahnya paling banyak? Dan bagaimana kesannya? Selama ini banyak yang tidak memiliki data dan mengetahui peta demografi orang-orang Yahudi di seluruh dunia.

Dan nampaknya jumlah keberadaan orang-orang Yahudi itu, jumlah mereka, sebanding lurus dengan pengaruh mereka didalam pelbagai bidang kehidupan.

Data-data ini dapat memberikan sebuah gambaran yang mendalam pada tingkat aktivitisetiap negara, yang berkaitan dengann politik, ekonomi, perdagangan, pertahanan-keamanan, budaya dan ilmu pengetahuan, teknologi-informasi, dan bahkan bidang pertanian.

Semakin banyak jumlah orang Yahudi di sebuah negara, semakin kuat pengaruhnya terhadap aspek-aspek aktiviti pemerintahan di sebuah negara. Ini sudah menjadi fakta yang sifatnya umum. Negara-negara yang jumlahnya penduduk Yahudi cukup banyak, maka negara itu, sudah betul-betul berada dalam ‘genggaman’ golongan Yahudi.

Mereka membangun jaringan yang sangat kuat berdasarkan hubungan darah (ras), ideologi (agama), dan kepercayaan atau mitos bahawa bangsa Yahudi adalah bangsa pilihan 'tuhan'.

Inilah gambaran peta dimografi orang-orang Yahudi di seluruh dunia, setidaknya data ini, memuatkan sepuluh negara, yang paling banyak penduduknya orang Yahudi :

Tentu, yang pertama Israel, yang jumlah penduduknya 5.313.800 (40% dari total populasi Yahudi dunia). Di luar Israel, sepuluh negara yang jumlah Yahudinya paling banyak adalah : Amerika jumlah Yahudi 5.275.000 jiwa (40% dari total populasi dunia), Perancis jumlah Yahudi 491.000 jiwa (3.8% dari total populasi Yahudi dunia), Canada jumlah Yahudi 373.000 jiwa (2.9% dari total populasi Yahudi dunia), Britain jumlah Yahudi 297.000 jiwa (2.3% dari total populasi Yahudi dunia), Rusia 228.000 jiwa (1.7% dari total populasi Yahudi dunia), Argentina jumlah Yahudi 184.000 jiwa (1.4% dari total populasi Yahudi dunia), Jerman jumlah Yahudi 118.000 jiwa (0,9% dari total populasi Yahudi dunia), Australia jumlah Yahudi 103 jiwa (0,8% dari total populasi Yahudi dunia), dan Brazil jumlah Yahudi 96.000 jiwa (0,7% dari total populasi Yahudi dunia).

Dari data ini golongan Yahudi yang paling banyak diluar Israel, yaitu di Amerika yang jumlahnya mencapai 5.275.000 jiwa (40% dari total populasi Yahudi dunia), maka Amerika sebagai negara ‘super power’, yang mempunyai pengaruh secara global, baik dibidang ekonomi, perdagangan, petahanan-keamanan, dan berdampak sangat luas.

Di Amerika yang sangat terkenal adanya ‘lobby’ Yahudi, yang sangat berpengaruh seperti AIPAC dan JAC, yang semuanya mempengaruhi kehidupan nasional Amerika. Jadi dengan jumlah golongan Yahudi yang banyak, dan sudah masuk dalam seluruh lembaga publik yang ada di Amerika, maka melihat kondisi seperti ini, betapa Amerika sekarang ini, para pemimpin Israel sudah mengganggap Amerika sebagai tanah air mereka. Dan, Israel dengan mudah mendiktekan tindakannya terhadap negara dan pemerintah Amerika.

Selain itu, beberapa negara Eropah yang sangat strategik iaitu ‘Trioka’, PerancisBritaindan Jerman, terdapat populasi Yahudi yang besar (lihat jumlah daftar Yahudi). Disamping Rusia yang sejak zamannya Tzar, orang-orang Yahudi sudah mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam kehidupan politik Rusia. Bahkan, sebagian pemimpin politik dan ideolog Partai Komunis Rusia adalah Yahudi. Seperti Karl Marx, Lenin, Stalin dan lainnya. Bahkan, sekarang orang terkaya kedua di Rusia, Roman Abromovich, yang memiliki kelab bolasepak Chelsea, tak lain, adalah Yahudi.

Semua negara Barat, yang tergabung dalam kelompok G.8 (Kelompok Negara Industri), di negara mereka masing-masing terdapat jumlah Yahudi yang banyak, dan umumnya mereka mempunyai pengaruh yang sangat penting. Namun, semuanya yang menjadi ‘episentrum’ (pusatnya) adalah di Tel Aviv. Sedangkan, negara-negara lainnya, seperti Amerika, Perancis, Canada, Inggris, Rusia, dan Jerman, mereka hanya menjadi ‘proxi’ (tangan) Israel.

Lihat dalam kasus konflik di Timur Tengah, sejak hadhirnya Israel di tahun 1948, sampai perang 1956, 1967, 1973, agresi Israel di Lebanon 1982, perang di Lebanon Lebanon Selatan 2006, dan terakhir agresi Isrrael ke Gaza, semua menggunakan ‘proxy’, negara yang sudah dibawah bayang-bayang Israel. Sampai bila keadaan ini dapat berubah? Terutama terhadap penjajahan rakyat Palestin? (m/jp)

assalammualaikum...

assalammualaikum...